CATIN CETAR

PROGRAM INOVASI CATIN CETAR

 PENGERTIAN

               Calon pengantin merupakan kelompok sasaran yang startegis dalam upaya peningkatan kesehatan masa sebelum hamil. Menjelang pernikahan, banyak calon pengantin yang tidak mempunyai cukup pengetahuan dan informasi tentang kesehatan reproduksi dalam berkeluarga, sehingga setelah menikah kehamilan sering tidak direncanakan dengan baik serta tidak di dukung oleh status kesehatan yang optimal. Hal ini tentu saja dapat menimbulkan dampak negatif seperti adanya resiko penularan penyakit, komplikasi kehamilan, kecatatan bahkan kematian ibu dan bayi. Pemberian komunikasi informasi dan edukasi tentang kesehatan reproduksi kepada calon pengatin sangat diperlukan untuk memastikan setiap calon pengantin mempunyai pengetahuan yang cukup dalam merencanakan kehamilan dan mempersiapkan keluarga yang sehat (Kemenkes RI, 2018).

               Program inovasi Catin Cetar (Calon Pengantin Cerdas dan Pintar) merupakan program inovasi UPT Puskesmas Asembagus untuk memberikan komunikasi informasi dan edukasi tentang kesehatan reproduksi pada calon pengantin. Program Catin Cetar tercetus karena rendahnya pencapaian pemeriksaan pada calon pengantin di wilayah Kecamatan Asembagus. Program ini melibatkan berbagai lintas program di Puskesmas Asembagus maupun lintas sektor wilayah Kecamatan Asembagus. Lintas program yang terlibat antara lain program KIA, KB, PKPR dan laboratorium. Sedangkan lintas sektor yang terlibat yaitu Kecamatan Asembagus, KUA Asembagus, Kepala Desa dan Modin di 10 wilayah Puskesmas Asembagus.

 

PELAYANAN KESEHATAN REPRODUKSI CALON PENGANTIN

                Calon pengantin yang akan menikah adalah cikal bakal terbentuknya sebuah keluarga, sehingga sebelum menikah calon pengantin perlu mempersiapkan kondisi kesehatannya agar dapat menjalankan kehamilan sehat sehingga dapat melahirkan generasi penerus yang sehat dan menciptakan keluarga yang sehat, sejahtera dan berkualitas. Pelayanan kesehatan reproduksi calon pengantin yaitu berupa pemeriksaan sesuai standar dan KIE kesehatan reproduksi.

                Pemeriksaan yang dilakukan pada calon pengantin antara lain pemeriksaan laboratorium yang terdiri dari pemeriksaan golongan darah dan Hb serta skrining TT di poli KIA. Sedangkan KIE kesehatan reproduksi terdiri dari informasi pranikah (hak reproduksi dan seksual, organ reproduksi, persiapan kesehatan pranikah), kesetaraan gender dalam rumah tangga, informasi tentang kehamilan perencanaan kehamilan dan kontrasepsi, kondisi kesehatan dan penyakit yang perlu diwaspadai oleh pasangan calon pengantin dan kehidupan seksual suami istri.

 

PEMERIKSAAN STANDAR CALON PENGANTIN

  • Pemeriksaan Laboratorium

     Pemeriksaan laboratorium terdiri dari pemeriksaan golongan darah dan pemeriksaan Hb. Adapun fungsi dari pemeriksaan tersebut adalah:

  1. Pemeriksaan Golongan Darah

Pemeriksaan golongan darah penting dilakukan untuk mengetahui kecocokan rhesus dengan efeknya terhadap ibu beserta sang anak. Rh-negatif pada perempuan dan Rh-positif pada pria berisiko menimbulkan ketidaksesuaian yang berakibat fatal pada anak.

  1. Pemeriksaan Hb darah

Pemeriksaan Hb darah pada perempuan untuk mengetahui tingkat Hb sehingga dapat membantu untuk mengetahui risiko penyakit thalassemia dan anemia pada saat akan hamil.

  • Skrining TT (Tetanus Toxoid)

                 Skrining TT pada calon pengantin perempuan bertujuan untuk mengetahui status imunisasi calon pengantin. Apabila diperlukan calon pengantin akan diberikan imunisasi TT sebagai upaya pencegahan dan perlindungan terhadap penyakit tetanus. Imunisasi TT pada wanita usia subur perlu diberikan sampai pada status T5 agar mendapat kekebalan penuh. Calon pengantin perempuan perlu mendapat imunisasi TT agar saat hamil dan melahirkan, ibu dan bayi terlindungi dari penyakit tetanus.

  • Komunikasi Informasi dan Edukasi Kesehatan Reproduksi Calon Pengantin     
  •                       - Kesehatan Reproduksi

                 Kesehatan reproduksi adalah suatu keadaan yang menunjukkan kondisi kesehatan fisik, mental dan social seseorang dihubungkan dengan fungsi dan proses reproduksinya termasuk di dalamnya tidak memiliki penyakit atau kelainan yang mempengaruhi kegiatan reproduksi tersebut. Perempuan lebih rentan dalam menghadapi risiko kesehatan reproduksi seperti kehamilan, melahirkan, aborsi yang tidak aman dan pemakaian alat kontrasepsi. Laki-laki juga mempunyai masalah kesehatan reproduksi khususnya yang berkaitan dengan IMS termasuk HIV/AIDS.

             - Hak Reproduksi dan Seksual

                 Kedua calon pengantin mempunyai kebebasan, hak dan tanggung jawab yang sama dalam memutuskan kapan akan mempunyai anak, berapa jumlah anak dan jarak kelahiran. Hak reproduksi dan seksual harus menjamin keselamatan dan keamanan calon pengantin, termasuk mendapatkan informasi lengkap tentang kesehatan reproduksi dan seksual sehingga calon pengantin dapat membuat keputusan tanpa terpaksa.

              - Organ Reproduksi

                 Organ reproduksi perempuan terdiri dari: ovarium (indung telur), tuba fallopii (saluran telur), vimbrae (umbai-umbai), uterus (rahim), serviks (leher rahim), vagina (liang kemaluan), klitoris (kelentit), labia (bibir kemaluan) dan perineum. Organ reproduksi laki-laki terdiri dari: testis (buah zakar), skrotum (kantung buah zakar), vas deferens (saluran sperma), prostat dan penis.

               -  Persiapan Kesehatan Pranikah

                 Persiapan kesehatan pranikah meliputi: persiapan fisik, persiapan gizi, imunisasi tetanus, menjaga kesehatan organ reproduksi dan menjaga kesehatan jiwa dan harmonisasi pasangan suami istri.

               - Kesetaraan Gender dalam Rumah Tangga

                 Kesetaraan gender antara perempuan dan laki-laki dalam rumah tangga yaitu saling menghormati dan menghargai. Pernikahan yang ideal dapat terjadi ketika suami dan istri saling menghormati dan menghargai satu sama lain, misalnya pengambilan keputusan dalam rumah tangga dilakukan secara bersama dan tidak memaksakan ego masing-masing. Hal-hal yang harus dihindari dalam pernikahan adalah: kekerasan secara fisik, kekerasan secara psikis, kekerasan seksual, penelantaran dan eksploitasi.

                - Kehamilan, Perencanaan Persalinan dan Kontrasepsi

                 Informasi kehamilan yang diberikan meliputi informasi tentang masa subur, proses kehamilan, tanda-tanda kehamilan, kehamilan ideal versus kehamilan berisiko, tanda bahaya kehamilan dan kondisi emosional ibu hamil.

                 Program perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi (P4K) merupakan kegiatan dalam rangka meningkatkan peran aktif suami, keluarga dan masyarakat dalam menjaga ibu hamil.

                 Bagi pasangan yang belum ingin segera memiliki anak atau istri berusia kurang dari 20 tahun, dapat menunda kehamilan dengan menggunakan salah satu metode KB yang sesuai.  

                - Kondisi Kesehatan dan Penyakit yang Perlu Diwaspadai oleh Calon Pengantin

                 Kondisi kesehatan dan penyakit yang perlu diwaspadai oleh pasangan calon pengantin adalah anemia, kekurangan gizi, hepatitis B, Diabetes Melitus, malaria, TORCH, Thalassemia, Hemofilia, Infeksi Saluran Reproduksi (ISR), Infeksi Menular Seksual (IMS) dan HIV/AIDS.

                - Kehidupan Seksual Suami Istri

                 Kehidupan seksual suami istri adalah suatu hubungan yang dibuna oleh suami dan istri, dimana masing-masing pihak dapat memperlihatkan bentuk kasih saying cintanya lewat tindakan pribadi yang dilakukan berdua. Komunikasikan apa yang menjadi kebutuhan seksual dari masing-masing pasangan. Tujuannya adalah agar kedua belah pihak dapat menikmati kehidupan seksual yang sehat dan berkualitas.

  • Pelaksana Program Catin Cetar

Pelaksana program Catin Cetar tertuang dalam SK Kepala UPT Puskesmas Asembagus

  • Alur Program Catin Cetar

Alur program Catin Cetar terdapat dalam SOP pelaksaan Catin Cetar yaitu:

  1. Calon Pengantin datang ke Kantor Desa untuk Mendaftarkan pernikahannya
  2. Petugas / Modin menganjurkan untuk periksa kesehatatan Reproduksi di puskesmas, dan petugas memasukkan no HP ke dalam WAG Catin Cetar
  3. Petugas Puskesmas memberikan KIE agar catin Segera periksa Kesehatan Reproduksi ke puskesmas melalui WAG Catin Cetar,
  4. Petugas menghubungi dan mengkonfirmasi apabila ada catin yang belum datang ke puskesmas
  5. Petugas Puskesmas mempersilahkan catin untuk mengajukan pertanyaan apapun mengenai kesehatan Reproduksi melalui WAG Catin Cetar
  6. Petugas Puskesmas mempersilahkan Catin untuk keluar grup jika catin yang bersangkutan sudah periksa kesehatan reproduksi dan sudah tidak mempunyai pertanyaan lagi tentang kesehatannya.

SOP Catin Cetar UPT Puskesmas Asembagus

SK CATIN UPT PUSKESMAS ASEMBAGUS